Senin, 27 Oktober 2014

Perubahan tidak selalu terlahir dari luar

Kondisi lingkungan saat ini
Dewasa ini, kondisi lingkungan sangat menghawatirkan yang tercermin dengan penurunan dari kualitas dan kuantitas ligkungan itu sendiri. Selalu terngiang dalam telinga saya bahwa kerusakan lingkungan hidup, seperti aktivitas penebangan liar setara dengan enam lapangan bola setiap menitnya hilang begitu saja. Tentu aspek lingkungan lainnya pasti juga mengalami degradasi yang sangat hebat jika kita melihat dari sumber data lainnya. Dalam hal ini, lingkungan mempunyai cakupan arti yang sangat luas sekali, seperti yang dicakup dari berbagai sumber, yaitu kondisi fisik keadaan sumberdaya alam atau dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berada disekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan manusia. Sempat terlintas saya membayangkan jika manusia hidup tanpa lingkungan?atau dapat dibalik pertanyaannya jika dunia (lingkungan) tanpa kita?

Pergerakan penggiat pelestarian lingkungan
Dalam sebuah peribahasa sering disebutkan tidak ada asap jika tidak ada api atau tidak ada semut jika tidak ada gula. Fenomena banyaknya orang yang tersadar akan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan tercermin dari banyaknya wadah/organisasi yang aktif dalam hal tersebut. Tentunya banyaknya organisasi tersebut tidak lepas dari kondisi kekinian lingkungan tersebut. Namun, semua yang dilakukan oleh mereka tidak membuahkan hasil yang menggembirakan untuk mengembalikan atau yang lebih miris sekedar menghentikan atau yang sangat tragis hanya untuk mengurangi kerusakan lingkungan saja tidak dapat terealisasi dengan baik. 
Pertanyaannya mengapa hanya pada tindakan mengurangi saja mereka tidak mempunyai kemampuan menembus semua dinding kebobrokan dari semua penyebab dan pelaku perusakan lingkungan tersebut?Padahal bukan tidak sedikit sumberdaya (uang, waktu, keluarga, dan lainnya) yang mereka korbankan untuk melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Saya mengalami saat menjadi seorang aktivis ligkungan di salah satu Universitas terbesar di negeri ini seperti tidak mempunyai daya dan upaya untuk mengeluarkan semua potensi untuk mewujudkan hal tersebut. Pemikiran saya saat itu dan hingga beberapa hari lalu masih terkungkung bahwa saya hanya kurang totalitas dalam sebuah pergerakan tersebut sehingga saat ini saya hanya menjadi seorang biasa yang dapat disebut sebagai mantan aktivis peletarian lingkungan.
Saya tersandera oleh yang namanya sebuah pemenuhan kebutuhan hidup saja. Apakah saya salah jika saya tidak konsisten secara penuh dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan?Pada satu sisi saya bisa di vonis sangat bersalah dan pada kondisi lain adalah kewajaran seseorang dengan derajat manusia biasa di sebuah negara berkembang lebih berorientasi kebutuhan dengan segala kekurangannya. Dan lebih tragisnya saya sekarang bekerja di sebuah instansi yang bisa dibilang sebagai salah satu penyebab terbesar terjadinya degradasi lingkungan. Sampai saat ini, saya masih menyimpan rapat-rapat ketidakmampuan saya dalam jurang yang semakin sangat dalam.
Yang lebih menyakitkan adalah stigma kawan seperjuangan saya mengenai idealisme penggiat pelestarian lingkungan sudah digadaikan kepada cukong perusak lingkungan. Salah satu kawan saya dari Eropa Barat bahkan sangat keras merespon saya yang sudah bekerja dibidang yang dia anggap sebagai faktor penyebab utama tersebut. Tapi semua itu saya harus terima sebagai konsekensi dalam sebuah pilihan hidup. Sejahat-jahatnya indung Harimau pasti tidak akan pernah memangsa anaknya, begitupun saya dengan seburuk-buruknya pilihan hidup saya idealisme ini tidak akan pernah tergadai.

Perubahan dari luar
Arti dalam perubahan dari luar adalah segala upaya kita merubah suatu sistem dengan melakukan pergerakan dari luar sistem tersebut. Hasilnya adalah banyak kesadaran yang muncul dari berbagai kalangan akan pentingnya sebuah upaya pelestarian lingkungan. Apakah sebuah kesadaran saja cukup?berbagai pengamatan dan pandangan saya (mungkin sangat sempit) akan menjawab tidak cukup. Mengapa tidaklah cukup sebuah kesadaran dapat merubah sistem yang kita anggap selama ini justru menambah perusakan pada lingkungan?
Hal ini, dikarenakan untuk merubah sebuah sistem yang kita anggap sudah buruk tidaklah cukup menjadi seorang aktor figuran tetapi harus menjadi aktor utama dalam sebuah sistem tersebut. Maksud aktor figuran disini adalah seorang aktivis penggiat lingkungan yang berusaha melakukan kegiatan pelestarian lingkungan tapi tidak berusaha merubah sistemnya. Dalam berbagai contoh adalah melakukan kegiatan upaya penyadaran mengenai lingkungan kepada berbagai kalangan, seperti seminar pembahasan pelestarian lingkungan, kampanye menghentikan perdangangan satwaliar, bakti sosial pembersihan areal sekitarnya, dan masih banyak kegiatan lainnya. Perumpaman lainnya adalah aktor figuran tersebut hanya terpaku pada naskah dialog yang mencakup kulit luar dari film tersebut. Maksud dari naskah dialog tersebut adalah banyak yang dilakukan hanya bersifat simbolis dan hasil dari kegiatan tersebut bagaimana caranya dapat terangkat dalam sebuah berita melalui media, entah dengan kita melakukan undangan kepada media agar dapat meliput kegiatann pelestarian lingkungan yang pesannya dapat tersampaikan kepada semua pihak. 
Namun, dalam hal ini saya tidak menghakimi upaya keras kawan-kawan penggiat pelestarian lingkungan adalah salah. Tetapi upaya kita akan sia-sia saja kalau masih berputar dalam situasi tersebut, sehingga sasaran yang akan tercapai tidak akan terealisasi dengan baik. Sekali lagi saya mengibaratkan semut di ujung gunung terlihat sementara gajah di pelupuk mata tak terlihat. Jadi sebelum melakukan hal yang sangat besar mulailah dari sebuah hal yang lebih sangat besar. Apa yang saya maksudkan adalah cara merubah sistem dari luar yang lebih efektif, yaitu kurangilah kegiatan yang bersifat luas namun sempit dan segerakan kegiatan yang bersifat sempit tetapi sangat luas efeknya. Contoh sederhana adalah dengan mengurangi kegiatan yang bersifat simbolis dan memulai dengan kegiatan yang bersifat non-simbolis. Dikarenakan kesalahan terbesar kita adalah menganggap simbol adalah substansi, sehingga kita sering terjebak pada pembenaran terhadap semua hal yang hanya bersifat kasat mata sebagai pembenaran hakiki. Dalam hemat saya adalah pemberitaan dan kebanggan membuat sebuat kegiatan penyadaran perbaikan lingkungan adalah hal utama. Namun sasaran utama terhadap orang yang tersadarkan agar mau menjalani apa yang menjadi pesan utama kegiatan tersebut adalah sulit. Prinsipnya sebuah kegiatan bersifat simbolis adalah temporer, sementara kegiatan non-simbolis adalah permanen. Sebagai contoh kegiatan non-simbolis adalah kita terjun di lingkungan terdekat di sekitar kita dalam upaya mewujudkan lingkungan bersih dari sampah dan penyakit dengan melakukan kerja bakti yang rutin seminggu sekali dan tujuan kedepannya sampai terwujudnya komunitas masayarakat yang peduli akan kebersihan secara mandiri dan bahkan dapat menularkan rantai pesan positif pada komunitas terdekatnya. Dan masih banyak contoh lainnya yang dapat dilakukan dengan fokus utama pada konsep continue and sustainability.



Perubahan dari dalam
Yang dimaksud merubah dari dalam adalah kita harus menjadi bagian secara utuh dari sebuah sistem tersebut. Ada nasehat yang selalu menjadi pembenaran yang selalu saya pegang, yaitu belajarlah dari hal yang kamu anggap salah dan merubah sesuatu tidak mutlak dari luar. Dengan dua nasehat tersebut saya sedikit diberikan harapan bahwa ideliasme saya tidak hilang, namun hanya mengalami kekeruhan dan proses pengotoran terhadap idealisme saya. Semoga saya mampu dan kuat memegang ideliasme ini dengan masuk ke dalam sistem dan belajar mengenai hal yang salah tanpa harus mengurangi prinsip idealisme tersebut. Perumpamannya adalah sebagai berikut seorang aktor utama pasti pernah mengalami menjadi aktor figuran dan tentunya naskah yang dibacanya tidak hanya kulit luar dari isi film tersebut, namun berperan penting dalam membawa alur film ke arah yang diinginkan sutradara atau bahkan aktor utama tersebut dapat merubah alur ke arah yang dia inginkan berdasarkan berbagai macam improvisasinya. Sebagai contoh seorang mantan aktivis pelestraian lingkuangn masuk kedalam sebuah bidang pekerjaan yang menjadi salah satu penyebab rusaknya lingkungan dan seiring waktu berjalan jika dia sukses menjadi penentu kebijkan di sistem bidang pekerjaan tersebut. Tentunya akan berefek besar dalam menentukan kebijakan yang dia dan sistem yang dipimpinnya untuk menerapkan kebijakan yang mendukung pelestarian lingkungan. Atau seburuk-buruknya nasib menggariskan mantan aktivis tersebut selalu menjadi pengikut dan menjalanakan kebijakan yang bertentangan dengan pelestarian lingkungan. Modal besar yang dia dapatkan adalah informasi secara utuh dan langsung yang dibarengi dengan pengalaman pelaksanaan dilapangan yang ternyata salah dapat dijadikan sebuah pijakan konsep pemikiran jika dia keluar dari sistem tersebut dan memulai merubah dan memperbaiki sistem secara keseluruhan di bidang pekerjaan lainnya untuk mendukung pelestarian lingkungan.


Sebuah harapan
Semua hal yang telah tersampaikan bukan merupakan pembenaran pilihan hidup saya untuk menggadaikan waktu di bidang pekerjaan yang menjadi salah satu penyebab terbesar kerusakan lingkungan. Namun hal ini, semoga menjadi sebuah penyemangat dari keterpurukan saya selama ini atas stigma negatif sebagai mantan aktivis lingkungan. Dan semoga kawan-kawan yang bernasib sama seperti saya dan/atau dalam kondisi sama namun berbeda idealisme dapat menjadikan waktu yang hilang untuk berbakti sebagai penggiat pelestarian lingkungan ke depannya. Karena sebuah masa depan adalah hal yang gaib dan kita tidak mengetahui alur berikutnya, walaupun masa depan tersebut sudah direncanakan dengan matang sekalipun.
Semoga harapan itu masih ada dan terus terjaga asa dalam sebuah prinsip idealisme yang terbungkus dari sikap keseharian kta. 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar